Selasa, 27 November 2012

PENDIDIKAN ISLAM



A. Pengantar

Pendidikan islam secara umum adalah upaya sistematis untuk membantu anak didik agar tumbuh berkembang melalui akualisasi potensi diri berdasarkan kaidah-kaidah moral al-qur’an, ilmu pengetahuan, dan keterampilan hidup (life skill).

B. Pengertian Pendidikan Islam

1. Pengertian Bahasa (Etimologi )
a) Istilah Tarbiyah, 
mengandung arti memelihara, membesarkan dan mendidik
b) Istlah Al-Ta’lim
Yaitu semacam proses transfer pengetahuan
c) Istlah Al-Ta’dib
Berarti pengenalan dan pengetahuan secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia (peserta didik)tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan.

Abdur Rahman, al-Bani, misalnya menyimpulkan dari ketiga kara bahasa arab yang sudah kita sebutkan tadi bahwa pendidikan memiliki empat unsur, yaitu :

a) menjaga dan memelihara fitrah anak menjelang dewasa(baliq)
b) mengembangkan seluruh potensi
c) mengerahkan seluruh fitrah dan potensi menuju kesempurnaan
d) melaksanakan secara bertahap

2. Pengertian Istilah (Terminology)

a) Pengertian Pendidikan

Pengertian pendidikan dalam arti sempit adalah usaha sadar yang direncanakan waktu, tempat dan biaya, deprogram, dioranisasikan, diukur dan dievaluasi yang dilakukan oleh manusia dewasa(pendidik propesional) untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan , pengajaran, atau latihan bagi peserta didik menjadi dewasa untuk berperanan di masa yang akan datang.

Pendidikan dalam arti luas adalah segala potensi interaksi yang terjadi antara seseorang dengan lingkungan sekitar. Berupa bimbingan , arahan dan latihan untuk menumbuhkan dan mengembangkan segala potensi dalam diri manusia baik mental, moral dan fisik untuk menghasilkan manusia dewasa dan bertanggung jawab sebagai makhluk yang berbudi luhur

Sedangkan pendidikan islam adalah suatu proses bimbingan pembelajaran dan tuntunan serta pelatihan terhadap manusia ( peserta didik) yang memungkinkan seseorang(peserta didik)dapat mengarahkan kehidupannya berlandaskan ajaran islam yang mencakup semua aspek kehidupan yang dibutuhkan agar dapat melaksanakan peran, tugas dan fungsi sebagai hamba yang taat, tunduk dan patuh serta untuk mengolah, memelihara dan melestarikan bumi.
Hakikat Pendidikan Islam adalah segala upaya dan usaha untuk menjadikan manusia dewasa sesuai dengan ajaran Islam. Di dalam “pendidikan” mempunyai pengertian suatu proses bimbingan, tuntutan atau pimpinan yang di dalamnya mengandung beberapa unsur diantaranya:
1. Didalam bimbingan ada pembimbingnya (pendidik) dan ada yang dibimbing (peserta didik)
2. Bimbingan mempunyai arah yang bertitik tolak pada dasar pendidikan dan berakhir pada tujuan pendidikan
3. Bimbingan berlangsung pada suatu tempat, lingkungan atau lembaga pendidikan tertentu
4. Bimbingan merupakan proses, maka harus proses ini berlangsung dalam jangka waktu tertentu
5. Didalam bimbingan harus mempunyai bahan yang akan disampaikan pada anak didik untuk mengembangkan pribadi seperti yang di inginkan
6. Didalam bimbingan menggunakan metode tertentu

Dalam proses pendidikan ada beberapa komponen atau undur utama yang mesti ada, yaitu pendidik, peserta didik, tujuan pendidikan, materi pendidikan, dan cara atau mentode pendidikan.
1. Pendidik
Pada ayat 4 dan 5 surat Al-Alaq dijelaskan bahwa pendidik pertama adalah Allah SWT. Allah mengajar manusia menulis dengan menggunakan pena. Dia memberikan pengetahuan kepada manusia tentang segala sesuatu yang belum diketahui manusia.
2. Peserta didik
Peserta didik adalah manusia tanpa menyebutkan batas dan ketentuan lain. Dengan kata lain, semua manusia merupakan peserta didik tanpa batas waktu dan tempat. Ini dapat dikihar pada ayat ke 5 surat Al-Alaq.
3. Tujuan
Tujuan pendidikan disini adalah agar manusia mempunyai pengetahuan sehingga dapar beribadah dan bersujud serta mendekatkan diri kepada-Nya. Itu berarti bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mendapatkan rida-Nya. Masalah ini terlihar dengan jelas dalam ayat 1, 5, dan 19 surat Al-Alaq.
4. Materi
Secara eksplisit materi pendidikan tergambar dalam surat Al-Alaq ayat 1 dan 3 (membaca), ayat 4 (menulis), dan ayat 2 (mengenal diri melalui proses penciptaan secara biologis). Disamping itu secara implisit surat Al-Alaq menyatakan bahwa materi pendidikan dalam Islam itu terpadu, tidak terbagi antara ilmu agama dan ilmu umum. Dengan kata lain tidak ada dikotomi ilmu pengetahuan yang akan diajarkan karena pada hakikatnya ilmu itu hanya satu, yaitu bersumber dari allah SWT sebagai pendidik utama. Hal ini dapat disimpulkan dari ayat 1 dan 3. Ayat tersebut menyatakan bahwa Tuhan memrintahkan membaca tanpa menyebutkan objek yang harus dibaca. Jadi, apa saja boleh dibaca untuk mendapatkan informasi.
Jadi objek ilmu pengetahuan adalah ayat-ayat Allah SWT yang tertulis berupa sumber ajaran Islam yaitu Al-Quran dan Al-Hadits dari segala ciptaan Allah yang tidak tertulis berupa alam semesta dan seisinya.
5. Metode
Metode adalah cara yang dipakai oleh pendidik agar bahan, materi yang ditetapkan dalam kurikulum dapat dicapai secara efektif dan efisien. Secara eksplisit metode pendidikan yang tergambar didalam surat Al-Alaq adalah sebagai berikut:
a). Pembuasaan dan pengamalan.
b). Mauziah (ayat 19)
c). Targhib wa Tarhib (ayat 8, 15-18) dan
d). Hiwar khitbi ta’ridi (ayat 9-10)
6. Alat
Pena merupakan sarana untuk memperoleh dan mewariskan ilmu pengetahuan. Dengan pena , ilmu pengetahuan akan ditulis lalu dibaca oleh generasi sekarang dan yang akan datang sehingga informasi tersebut menjadi berkembang.



C. Sumber Pendidikan Islam
Sumber pendidikan Islam adalah ayat tertulis yaitu Al-Quran dan As-Sunnah dan ayat tidak tertulis yaitu alam semesta dan seisinya, serta ijtihad dalam bidang pendidikan berupa pemikiran-pemikiran ulama tentang pendidikan. Al-Qran dan As-Sunnah bukan hanya dipandang sebagai kebenaran yang didasarkan pada keimanan semata, namun justru karena kebenaran yang terdapat dalam kedua dasar tersebut dapat diterima oleh nalar manusia dan dibolehkan dalam sejarah atau pengalaman kemanusiaan. Alam jagat raya bukan hanya dijadikan obyek ilmu pengetahuan, namun juga dapat dijadikan sumber pendidikan karena didalamnya memuat rahasia kebesaran Allah SWT. Pemikiran para ulama juga dapat dijadikan sumber pendidikan Islam, banyak karya ulama-ulama berupa kitab-kitab yang memuat tentang yang dapat dijadikan sumber pendidikan.
Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang mengandung implikasi pendidikan. Diantaranya adalah surat Al-Imran; 190-191, Ad-Dukhan; 38-39, Al-Anbiya; 16-18, dan masih banyak lagi.
D. Tujuan Pendidikan
Samsul Nizar menjelaskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia secara menyeluruh dan seimbang yang dilakukan melalui latihan jiwa, akal fikiran diri manusia yang rasional, perasaan dan indra.
Tujuan pendidikan Islam memiliki ciri-ciri sebagaimana yang diungkapkan Abudin Natta sebagai berikut:
1. Mengarahkan anak menjadi khalifah Allah di muka bumi dengan sebaik-baiknya, yaitu melaksanakan tugas-tugas dan memakmurkan dan mengelola bumi sesuai dengan kehendak-Nya.
2. Mengarahkan anak agar seluruh pelaksanaan  tugas kekhalifahannya di muka bumi dilaksanakan dalam rangka beribadah kepada Allah sehingga tugas tersebut terasa ringan dilaksanakan.
3. Mengarahkan anak agar memiliki akhlak mulia, sehingga ia tidak menyalahgunakan fungsi kekhalifahannya.
4. Membina dan mengarahkan potensi akal, jiwa, dan jasmaninya, sehingga ia memiliki ilmu akhlak dan keterampilan yang semuanya ini dapat digunakan guna mendukung tugas pengabdian dan kekhalifahannya.
5. Mengarahkan anak agar dapat tercapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Adnin Armas menjelaskan bahwa tujuan utama pendidikan dalam Islam adalah mencari ridha Allah SWT. Dengan pendidikan, diharapkan akan lahir individu-individu yang baik, bermoral, berkualitas, sehingga bermanfaat kepada dirinya, keluarganya, masyarakatnya, negaranya dan ummat manusia secara keseluruhan.
Jadi, tujuan pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram, dam sistematis dalam rangka membentuk manusia yang memiliki kompetensi:
1. Kepribadian Islam
Tujuan ini merupakan konsekuensi seorang muslim, yaitu teguhnya dalam memegang identitas kemuslimannya dalam pergaulan sehari-hari. Identitas itu tampak pada dua aspek yang fundamental, yaitu pola berfikirnya (aqliyah) dan pola sikapnya (nafsiyyah) yang berpijak pada aqidah Islam. Berkaitan dengan pengembangan kepribadian dalam Islam ini, paling tidak terdapat tiga langkah upaya pembentukannya sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW, yaitu: 
1. menanamkan aqidah Islam kepada seorang manusia dengan cara yang sesuai dengan kategori aqidah tersebut, yaitu sebagai aqidah aqliyah; aqidah yang keyakinannya muncul dari proses pemikiran yang mendalam.
2. mengajaknya untuk senantiasa konsisten dan istiqomah agar cara berfikir dan mengatur kecenderungan insaninya berada tetap diatas pondasi aqidah yang diyakininya
3. mengembangkan kepribadiannya dengan senantiasa mengajak bersungguh-sungguh dalam mengisi pemikirannya dengan tsaqafah Islamiyah (kebudayaan Islam) dan mengamalkan perbuatan yang selalu berorientasi pada melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT.
2. Menguasai Tsaqafah Islamiyah dengan handal
Islam mendorong setiap muslim untuk menjadi manusia yang berilmu dengan cara mewajibkannya untuk menuntut ilmu. Adapun ilmu berdasarkan takaran kewajibannya menurut Al Ghazali dibagi dalam dua kategori, yaitu:
1. Ilmu yang fardlu ‘ain, yaitu wajib dipelajari setiap muslim, yaitu ilmu-ilmu tsaqafah Islam yang terdiri konsepsi, ide, dan hukum-hukum Islam (fiqh), bahasa Arab, dll.
2. Ilmu yang dikategorikan fardlu kifayah, biasanya ilmu-ilmu yang mencakup sains dan teknologi, serta ilmu terapan-keterampilan, seperti biologi, fisika, kedokteran, pertanian, teknik, dll.
Berkaitan dengan tsaqafah Islam, terutama bahasa Arab, Rasulullah SAW, telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan dan urusan penting lainnya, seperti bahasa diplomatik dan interaksi antar negara. Dengan demikian, setiap muslim yang bukan Arab diharuskan untuk mempelajarinya. Berkaitan dengan hal ini karena keterkaitan bahasa Arab dengan bahasa Al-Quran & As-Sunnah, serta wacana keilmuan Islam lainnya.
3. Menguasai ilmu-ilmu terapan (ilmu, pengetahuan, dan teknologi/IPTEK)
Menguasai IPTEK siperlukan agar umat Islam mampu mencapai kemajuan material sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifatullah di muka bumi dengan bail. Ialam menetapkan penguasaan sains sebagai fardlu kifayah, yaitu kewajiban yang harus dikerjakan oleh sebagian rakyat apabila ilmu-ilmu tersebut sangat diperlukan umat, seperti kedokteran, kimia, fisika, industri penerbangan, biologi, teknik, dll
4. Memiliki skills/keterampilan yang tepat guna dan berdaya guna
Perhatian besar Islam pada ilmu teknik dan praktus, serta keterampilan merupakan salah satu dari tujuan pendidikan Islam. Penguasaan keterampilan yang seba material ini merupakan tuntutan yang harus dilakukan umat Islam dalam rangka pelaksanaan amanah Allah SWT. Hal ini diindikasikan dengan terdapatnya banyak nash yang mengisyaratkan kebolehan mempelajari ilmu pengetahuan umum dan keterampilan. Hal ini dihukumi sebagai fardlu kifayah. Penjelasan 3 dan 4 dapat diperhatikan pada pembahasan ilmu dan kedudukan dalam Islam di atas.
Sasaran pendidikan Islam adalah mengintegrasikan iman dan taqwa dengan ilmu pengetahuan dalam pribadi manusia untuk mewujudkan kesejahteraan dunia-akhirat.

E. Asas-Asas Pendidikan Islam
Asas pendidikan Islam adalah perkembangan dan pertumbuhan dalam perikehidupan yang seimbang dalam semua seluk-beluk kehidupan secara adil, merata, menyeluruh dan integral. Para ahli juga membahas tentang kerangka dasar pendidikan. Dasar atau asas akan memberikan arah bagi pelaksanaan pendidikan yang telah diprogramkan. Secara lebih luas dasar pendidika Islam menurut Sa’id Ismail Ali (sebagaimana dikutip Langgulung) terdiri atas 6 macam, yaitu Al-Quran, Sunnah, Qaul Al-Shahabat, Masalih Al-Mursalah. ‘Urf dan pemikiran hasil ijtihad intelektual Muslim.
Dari Ayat-ayat Al-Quran, As-Sunnah, alam semesta dan pemikiran para ulama yang dijadikan sumber pendidikan, maka dapat disimpulkan bahwa pola dasar pendidikan Islam adalah sebagai berikut:
1. Segala fenomena alam adalah ciptaan Tuhan dan tunduk kepada hubungan mekanisme sebagai sunnatullah
2. Manusia harus dididik agar bisa menghayati segala fenomena alam sehingga bisa menanamkan rasa iman dan taqwa
3. Manusia sebagai makhluk paking mulia dibanding makhluk lain menjadi khalifah
4. Manusia harus dibekali ilmu agar bisa memberdayakan bumi dengan ilmunya untuk kemaslahatan umum sesuai tuntunan Tuhan
5. Manusia sebagai makhluk sosial yang cenderung untuk berkumpul, berinteraksi dengan orang lain dan membentuk suatu tali persaudaraan
6. Manusia sebagai makhluk moralitas yang cenderung untuk memeluk agama
7. Pendidikan seumur hidup sebagai dasar proses pendidikan sebagai konsep pemikiran yang berorientasi pada keimanan dan akhlak yang terpadu membentuk dan mewarnai pendidikan Islam

F. Prinsip – Prinsip pendidikan Islam
1. Selalu mengacu kepada Al-quran dan Hadist

Al-quran dan hadist merupakan sumber utama dalam pendidikan islam. Oleh karena itu pendidik dan peserta didikharus memahami kandunga Al-quran dan hadist. Ketika ada pendapat yang bertentangan dengan keduanya, seharusnya pendidikan tidak boleh menerimanya sebagai acuan.

2. Selalu mengarah kepada dunia dan akhirat
Memang hidup di dunia hanyalah sementara, semuanya akan musnah tapi perlu diingat, justru dengan kehidupan sekejap itulah kita dianjurkan mengejar kesuksesan dunia, untuk berlomba-lomba didalam menggapai amal shaleh sebagai bekal untuk ke akhirat nanti, bukan menjauh dari dunia seperti layaknya orang-orang yang mengasingkan diri dari kehidupan social. Jadi pendidikan islam harus menekankan kehidupan yang mengarah kepada dunia dan akhirat.
3. Bersifat teoris dan praktis
Pendidikan islam tidak cukup hanya menyampaikan teori, karena tujuan materi itu tidak lain untuk dilaksanakan guna mencapai amal yang tinggi di sisi tuhan. Maka untuk mencapai pengalaman yang sempurna hendaklah para pendidik melaksanakan apa yang diajarkan kepada peserta didik. Dan uswatun hasanah harus menjadi pedoman yang utama di dalam hidupnya.
4. Sesuai dengan potensi yang dimiliki manusia
Pendidikan islam bersifat fleksibel, harus sesuai dengan potensi manusia karena setiap manusia mempunyai potensi yang berbeda-beda. Beberapa potensi manusia diantaranya yaitu potensi melihat, mendengarka, merasakan, potensi berfiikir. Dengan potensi inilah pendidikan islam harus memerintahkan kepada manusia untuk selalu berikir secara mendalam dan kritis, sekaligus dengan menggunakan perasaannya.

5. Berorientasi pada hablum minallah wa hamlum minannas

Segala aktifitas dan kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan berorientasi pada hubungan social dan hubungan kepada Allah SWT. Artinya pendidikan islam bukan aktivitas kemanusiaan semata, namun juga disebut sebagai aktivitas ketuhanan artinya proses pendidikan dapat menjadi niali agama

6. Ikhlas 

Prinsip ikhlas dapat terlihat jelas dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1. Tuhan memerintahkan membaca atas nama Allah. Begitu juga pada ayat ke 19, allah meyuruh manusia hnya patuh dan sujud kepada-Nya tidak kepada yang lain-Nya.

7. Pendidikan Seumur Hidup

Tergambar secara implicit dalam QS. Al-‘Alaq, yaitu tidak adanya batasan manusia harus mulai belajar dan sampai kapan ia berhenti belajar. Tuhan hanya menjelaskan bahwa manusia harus membaca dan belajar sejak dilahirkan sampai ajalnya tiba.

8. Efektivitas Pendidikan

Keberhasilan seseorang, termasuk dalam bidang pendidikan, dapat membuat dirinya merasa angkuh dan bertidak sewenang-wenang. Walaupun tuhan telah mendidik manusia, tidak semuanya berhasil menjadi manusia yang baik karena hal itu bergantung pada beberapa factor, seperti lingkungan dan kemauan untuk menjadi baik.


G. Pendidik

Pendidik adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik, sedangkan dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan tertentu, tidak mesti di lembaga pendidikan formal, tetapi bisa juga di masjid, mushala, rumah dan sebagainya.

Menurut Moh. Fadil al-Djamil menyebutkan bahwa pendidik yaitu orang yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik sehingga terangkat derajat kemanusiaannya sesuai dengan kemampuan dasar yang dimiliki oleh manusia.

1. Syarat-syarat pendidik
Menjadi pendidik menurut Prof. Dr. Zakiah Darajad dan kawan-kawan, tidak sembarangan, tetapi harus memenuhi beberapa persyaratan seperti di bawah ini:
a. Takwa kepada Allah SWT
b. Berilmu
c. Sehat Jasmani
d. Berkelakuan baik
e. Sehat rohani (berakal sehat)
Menurut H. Mubangit, syarat untuk menjadi seorang pendidik yaitu :
1) Bertakwa kepada Allah SWT (taat Bergama)
2) Harus berilmu (ahli dalam bidang ilmu yang ditekuninya)
3) Menguasai ilmu pendidikan professional)
4) Kreatif dan inovatif
5) Bertanggung jawab
6) Berakhlak mulia
7) Demokratis
8) Harus memiliki perasaan panggilan nurani murni
9) Menguasai ilmu jiwa

Sedangkan sifat-sifat yang harus dimiliki seorang pendidik adalah :

1. Integritas pribadi, pribadi yang segala aspeknya berkembang secara harmonis
2. Integritas social, yaitu pribadi yang merupakan satuan dengan masyarakat
3. Integritas susila, yaitu pribadi yang telah menyatukan diri dengan norma-norma susila yang dipilihnya.

Adapun menurut Prof. Dr. Moh. Athiyah al-Abrasyi, seorang pendidik harus memiliki sifat-sifat tertentu agar ia dapat melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik, yaitu :
1. Memiliki sifat zuhud
2. Seorang guru harus jauh dari dosa besar
3. Ikhlas dalam pekerjaan
4. Bersifat pemaaf, lapang dada
5. Harus mencintai peserta didiknya
6. Memiliki sifat tegas dan terhormat
7. Pendidik suci dan bersih, murah hati
8. Bersahaja, bijaksana, dan mengayomi
9. Sabar, telaten
10. Amanah dan adil
11. Memiliki sikap tegas dan terhormat


H. Tugas dan Tanggung Jawab Pendidik
1. Tugas pendidik :
a. Membimbing peserta didik, yaitu mengenal anak didik mengenai kebutuhan, kesanggupan, bakat,  minat dan sebagainya.
b. Menciptakan situasi untuk pendidikan, yaitu: suatu keadaan dimana tindakan-tindakan pendidik dapat berlangsung dengan baik dan hasil yang memuaskan.
c. Seorang pendidik harus memiliki pengetahuan yang diperlukan seperti pengetahuan keagaman, dan lain sebagainya.

Seperti yang dikemukakan oleh imam al-Ghazali, bahwa tugas pendidik adalah menyempurnakan, membersihkan, menyempurnakan serta membina hati manusia untuk taqarrub kepada Allah SWT. Dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia tugas pendidik menurut islam adalah :

a. Menyerahkan kebudayaan islam kepada anak didik berupa kepandaian, kecakapan, dan pengalaman-pengalaman
b. Membentuk kepribadian muslim yang harmonis, sesuai cita-cita islam
c. Menyiapkan anak didik menjadi muslim yang baik sekaligus warga Negara yang baik seuai dengan Undang-undang pendidikan yang merupakan keputusan MPR No. II Tahun 1983
d. Sebagai perantara dalam belajar
e. Pendidik adalah sebagai pembimbing, untuk membawa anak didik kea rah kedewasaan, membentuk anak menurut nilai-nilai ajaran islam
f. Pendidik sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat
g. Sebagai penegak disiplin, pendidik menjadi teladan dalam segala hal, tata tertib dapat berjalan bila pendidik dapat menjalani terlebih dahulu
h. Pendidik sebagai administrator dan manajer
i. Pendidik sebagai perencana kurikulum
j. Pekerjaan pendidik sebagai satu profesi pendidik dan pemimpin
k. Pendidik sebagai sponsor dalam kegiatan anak-anak

2. Tanggung jawab pendidik
Pendidik adalah orang yang bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan anak didik, serta bertanggung jawab untuk membentuk anak didik agar menjadi orang bersusila yang cakap, berguna bagi agama, nusa, dan bangsa di masa yang akan dating.
Di dalam surat Al-‘Alaq memang tidak dijelaskan secara eksplisit tentang ruang lingkup pendidikan seperti yang telah dikemukakan di atas, tetapi secara implisit dapat dipahami petunjuk-petunjuknya tentang hal ini. Sedangkan tanggung jawab dari seorang pendidik adalah :
1) Tanggung jawab dalam bidang pendidikan akidah tauhid
Pendidikan tauhid atau pendidikan akidah dapat terlihat dengan jelas di dalam ayat 1, 2 dan 19.

2) Tanggung jawab dalam bidang pendidikan akhlak
Pendidikan akhlak dapat dipahami dari isyarat Allah tentang perilaku Abu jahal yang tidak bersahabat dengan Nabi Muhammad SAW. Dan tingkah lakunya yang sombong, sehingga pada ayat terakhir Tuhan melarang keras untuk patuh dan tunduk kepadanya. Selain itu, Allah juga menggambarkan akhlak yang terpuji, seperti mengajak untuk bertakwa. (ayat 6-13)

3) Tanggung jawab dalam bidang pendidikan akal
Dalam surat Al-‘Alaq, Allah mengisyaratkan tentang pendidikan akal. Pada ayat 1-2 Tuhan merangsang manusia untuk berpikir dengan perintah membaca. Kemudian dilanjutkan dengan informasi tentang penciptaan manusia yang berasal dari ‘alaq. Bukankah pola susunan kalimat dan muatan materi yang disampaikannya itu merangsang manusia untuk memikirkan secara rasional yang objektif? Berarati sejak wahyu pertama diturunkan, pendidikan akal ini telah mulai dicanangkan oleh Al-Quran.

4) Tanggung jawab dalam bidang pendidikan jasmani
Pendidikan jasmani dapat kita lihat dari isyarat Allah pada ibadah salat. Di dalamnya diajarkan sujud dan zikir, yaitu menggerakkan tubuh untuk menyegarkan jasmani agar beribadah lebih khusu dan konsentrasi. (ayat 10 dan 19)

5) Tanggung jawab dalam bidang sosial kemasyarakatan
Seorang pendidik harus memiliki kepedulian sosial. Pendidik di tengah masyarakat disamping menjadi teladan, tetapi juga juga menjadi agent of change (seorang yang mampu merobah) membimbing dan mengarahkan masyarakat menjadi lebih maju.

6) Tanggung jawab dalam bidang keilmuan
Tugas pendidik bukan hanya menguasai dan mengajarkan ilmu yang ditekuninya, namun juga mengembangkan ilmunya. Bahkan ilmu-ilmu yang mendukung dan yang terkait dengan disiplin ilmunya sebaiknya juga dipelajari, baik yang menyangkut staregi, metode dan tehnik pengajaran maupun materi pendukung.

3. Dalam Undang-undang Guru dan Dosen ditentukan bahwa seorang :
1. Pendidik wajib memiliki kualifikasi dan kompentensi pendidik sebagai agen pembelejaran
2. Kualifikasi akademik diperoleh melalui pendidikan S1 / D4 yang sesuai dengan tugasnya
3. Kompetensi profesi pendidik meliputi kompetensi pedagogic, kekpribadian, professional , dan social.
4. Manfaat Uji Kompetensi Guru
a. Pengelompokan guru
b. Acuan pengembangan kurikulum
c. Acuan pembinaan guru
d. Mendorong kegiatan dan hasil belajar

Kompetensi . Kemampuan dasar (kepribadian) yaitu kepribadian pendidik yang mantap ,stabil , dewasa , berwibawa, menjadi teladan, dan berahlak mulia, misalnya :
1. Beriman dan bertakwa
2. berwawasan pancasila
3. Mandiri dan tanggung jawab
4. Disiplin
5. Bersoasialisasi dengan masyarakat
6. Mencintai peserta didik dan didikannya
Kemampuan umum (mengajar)
Yaitu kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan serta pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, juga pengembangan peserta didik .
Kemampuan khusus (pengembangan ketramplian)
Yaitu kemampuan pendidikan dalam penguasaan materi pembelajaran secara luas serta mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memperoleh kompetensi yang ditetapkan.
Contoh dari kemampuan khusus yaitu :
1. Bertanya , memberi penguatan
2. mengadakan variasi
3. menjelaskan
4. membuka dan menutup pelajaran
5. mengelola kelas
Peserta didik adalah mahluk yang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrahnya masing masing. Mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju kearah titik optimal kemampuan fitrahnya. Didalam pandangan yang lebih modern, anak didik tidak ganta dianggap sebagai objek atau sasaran pendidikan, melainkan juga mereka harus diperlukan sebagai subjek pendidikan, diantaranya adalah dengan cara melibatkan peserta didik dalam memcahkan masalah dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan hal itu, maka anak didik dapat dicirikan sebagai orang yang tengah memerlukan ilmu, bimbingan, dan pengarahan.
Dasar-dasar kebutuhan anak untuk memperoleh pendidikan secara kodrati berasal dari orang tuanya. Dasar-dasar kodrati ini dapat dimengerti dari kebutuhan-kebutuhan dasar yang dimiliki oleh setiap anak dalam kehidupannya, dalam hal ini keharusan untuk mendapatkan pendidikan itu jika diamati lebih jauh sebenarnya mengandung aspek-aspek kepentingan antara lain:
1. Aspek paedogogis
Dalam aspek ini para pendidik mendorong manusia sebagai animal educandum, mahluk yang memerlukan pendidikan. Dalam kenyataannya manusia dapat dikategorikan sebagai animal, artinya binatang yang dapat dididik, sedangkan binatang pada umumnya tidak dapat dididik, melainkan hanya dilatih secara dresser.
2. Aspek Sosiologi dan Kultural
Menurut ahli sosiologi, pada prinsipnya manusia adalah moscrus, yaitu mahluk yang berwatak dan berkemampuan dasar untuk hidup bermasyarakat.
3. Aspek Tauhid
Aspek tauhid ini adalah aspek pandangan yang mengakui bahwa manusia adalah mahluk yang beketuhanan , yang menurut para ahli disebut homodivinous (mahluk yang percaya adanya Tuhan) atau disebut juga homoriligius (mahluk yang beragama)
J. Metode Pendidikan Islam
Banyak sekali ayat dalam al-qur’an yang bisa dijadikan pedoman dalam menggunakan metode dalam pengajaran, diantaranya adalah:
1. metode suasana gembira (al-baqarah: 25 & 185)
2. metode lemah lembut (al-imran: 159)
3. metode bermakna (Muhammad: 16)
4. metode prasyarat / muqadimah (al-baqarah: 1-2)
5. metode komunikasi terbuka (al-a’raf: 179
6. metode memberikan pengetahuan baru (al-baqarah: 164 dan al-fushilat: 153)
7. metode uswatun hasanah (al-ahzab: 21)
8. metode praktek / pengalaman aktif (as-shof: 2-3 dan al-baqarah: 250
9. metode bimbingan, penyuluhan dan kasih saying (al-anbiya’: 107 dan An-Nahl: 25)
10. metode cerita (al-a’raf: 176)
11. metode perumpamaan (Ibrahim: 18)
12. metode hukuman dan hadiah (Al-Ahzab: 72-73)



Makalah Agama Islam Kelompok 7
Dosen: Ibu Eva.


Eko Agus Setiawan. 1215121098
TP UNJ 2012.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar